Calender

Selasa, 02 Agustus 2011

Dalam khazanah bahasa Indonesia, kata berislam yang merupakan terjemahan dari kata aslama terdengar asing ketimbang kata beriman, yang terjemahan dari amana , padahal keduanya banyak ditemukan dalam Al-Qur’an. Kata aslama atau berislam mengadung makna sikap berserah diri pada Tuhan sang Pencipta dan Pemelihara alam semesta. Karena sebuah sikap, pilihan seseorang untuk berislam itu pada urutannya merupakan sesuatu yang immanent, sebuah pilihan hidup yang menyatu dengan kepribadian, bukan sebuah ideology yang berada di luar diri.

Dalam berbagai tulisanm, kata Islam selalu dengan huruf besar juga mengandung pengertian sebuah bangunan ajaran yang berada di luar diri kita, sebuah ideology yang telah final dan sempurna. Adalah kewajiban umat muslim untuk membela dengan seluruh jiwa dan raga. Pemahaman seperti ini tentu saja tidak salah, namun ada sisi-sisi yang terlewatkan. Jika kita merenungkan asal-usul kata Islam dan bagaimana konteksnya dalam Al-Qur’an, kata al-Islam selalu berkonotasi kata kerja. Ayat yang turun terakhir memang menegasskan bahwa agama yang diridhai Allah adalah al-Islam, yaitu ajaran Rasulullah SAW yang sesungguhnya juga merupakan ajaran dasar seluruh rasul Allah sejak nabi Adam. Intinya adalah tauhid dan penyempurnaan akhlak manusia. Ayat ini merupakan penutup dari proses panjang dakwah Rasulullah SAW selama 23 tahun.

Pemahaman dan penghayatan umat Islam generasi awal tentang kata al-Islam dengan kita sekarang sudah pasti memiliki kadar kedalaman yang berbeda. Di masa Rasulullah SAW, para sahabat lebih dahulu memperoleh pelajaran iman dalam sebuah proses panjang dan penuh dialektika, baik secara intelektual maupun fisikal. Salah satu cara untuk mengukur keberhasilan gerakan Muhammad SAW adalah dengan membandingkan kondisi social sesudah dan sebelumnya. Bayangkan hanya dalam waktu yang amat singkat menurut ukuran sejarah, padang pasir gersang dan masyarakatnya yang dikenal jahiliyah itu tiba-tiba berubah menjadi sumber penggerak dan model peradaban dunia. Orang muslim saat itu sangat percaya diri dan disegani oleh siapapun juga.

Saat ini kata Islam lebih dipahami sebagai perintah dan larangan. Islam telah menjadi kategori ideologis-sosiologis kelompok yang diperkuat dengan dokumen KTP (Kartu Tanda Penduduk). Dengan kata lain, meskipun kurang tepat, Islam seakan-akan ibarat baju yang ditawarkan dan dirancang secara instan, lalu dikenakan pada seseorang, entah karena alasan keturunan, mau menikah, atau ada juga sebagian yang memeluk Islam setelah melalui proses penemuan kebenaran dan keyakinan hidup.

Dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 83-85 yang artinya Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.

Katakanlah: "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nyalah kami menyerahkan diri."

Allah SWT menegur apakah manusia mau mencari dan mengikuti agama yang tidak mengajarkan sikap pasrah pada Allah SWT? Padahal semua yang ada di langit dan bumi seisinya semuanya berislam pada-Nya, baik secara suka rela maupun dengan paksaan, dan sesungguhnya semua yang ada ini nantinya akan kembali dan dikembalikan pada-Nya.

Sikap berislam ini telah diajarkan dan dilakukan oleh Nabi Ibrahim, Ismail, Ya’kub, Isa, dan para keturunannya karena ajaran untuk berserah diri ini datangnya dari Allah SWT. Dan sesungguhnya, setiap rasul itu saling menjaga dan meneruskan ajaran tauhid dan penyerahan diri sehingga sesungguhnya ajaran yang disampaikan Rasul Muhammad SAW adalah penerus dan penyempurna dar para rasul sebelumnya.

Islam sebagai sebuah nama agama berbeda dari agama lain yang dinisbatkan pada pendirinya atau nama tempat kelahirannya. Misalnya, agama Yahudi merupakan agama ayng dianut secara eksklusif oleh keturunan Nabi Ya’kub yang diikat dengan hubungan darah. Orang yang tidak memiliki hubungan darah sebagai bangsa Israel tidak akan dimasukkan sebagai pemeluk Yahudi. Agama Hindu sulit dipisahkan dari Benua Hindia tempat agama tersebut dilahirkan dan berkembang. Lalu, sebutan Kristen mengacu pada Yesus Kristus, sebagaimana agama Konghucu yang mengacu pada pendirinya. Nama agama-agama tersebut berbeda dari Islam yang dari segi bahasa serumpun dengan kata salam yang berarti damai ataupun ­aslama yang berarti berserah diri

Dengan demikian, ketika orientalis menyebut agama Islam dengan nama Muhammadanisme, segera memeroleh kritik, atau agama Makky yang menunjuk pada tempat kelahirannya. Dari segi nama saja, agama Islam telah menunjukkan universalitasnya bahwa sesungguhnya manusia dan alam semesta ini semuanya berislam pada Tuhan. Namun, karena anugerah akal dan kemerdekaannya, manusia memiliki potensi dan peluang untuk mengingkari dan menolak untuk berislam sebagaimana Islamnya alam semesta. Keberislaman jagad raya seisinya antara lain bisa dilihat yang pada keberislamannya air yang selalu mengalir ke tempat yang rendah, matahari berputar pada garis edarnya, pepohonan tumbuh dan berbuah sesuai dengan takdirnya, burung-burung berkicau sesuai dengan lagu dan iramanya, dan seterusnya yang semuanya itu menurut Al-Qur’an merupakan ekspresi sujud dan keberislaman mereka.

Dalam Al-Alqur’an, Allah SWT mengingatkan, sungguh manusia merupakan puncak ciptaan Allah yang paling mulia derajatnya dan paling sempurna kejadiannya. Namun, jika manusia tidak membimbing jalan hidupnya dengan iman dan amal kebajikan, mereka akan terjatuh menjadi makhluk yang paling hina karena lupa diri dan lupa pada tujuan hidupnya untuk selalu mendekatkan diri pada Tuhan.

Kamis, 20 Mei 2010

presentasi pemisahan ppk 1

Untuk teman-teman yang mau download presentasi pemisahan ppk 1 silakan klik alamat ini :

http://rapidshare.com/files/389758726/PPK1.rar

Rabu, 19 Mei 2010

Manfaat Sholat Secara Medis (Ilmiah!)

Manfaat Sholat Secara Medis (Ilmiah!)



Dr. Bahar Azwar, SpB-Onk, seorang dokter spesialis bedah-onkologi (
bedah tumor ) lulusan FK UI dalam bukunya ” Ketika Dokter Memaknai
Sholat ” mampu menjabarkan makna gerakan sholat. Bagaimana sebenarnya manfaat sholat dan gerakan-gerakannya secara medis?
Selama ini sholat yang kita lakukan lima kali sehari, sebenarnya telah memberikan investasi kesehatan yang cukup besar bagi kehidupan kita. Mulai dari berwudlu ( bersuci ), gerakan sholat sampai dengan salam memiliki makna yang luar biasa hebatnya baik untuk kesehatan fisik, mental bahkan keseimbangan spiritual dan emosional. Tetapi sayang sedikit dari kita yang memahaminya. Berikut rangkaian dan manfaat kesehatan dari rukun Islam yang kedua ini.
Manfaat Wudlu Kulit merupakan organ yang terbesar tubuh kita yang fungsi utamanya membungkus tubuh serta melindungi tubuh dari berbagai ancaman kuman, racun, radiasi juga mengatur suhu tubuh, fungsi ekskresi ( tempat pembuangan zat-zat yang tak berguna melalui pori-pori ) dan media komunikasi antar sel syaraf untuk rangsang nyeri, panas, sentuhan secara tekanan.
Begitu besar fungsi kulit maka kestabilannya ditentukan oleh pH (derajat keasaman) dan kelembaban. Bersuci merupakan salah satu metodemenjaga kestabilan tersebut khususnya kelembaban kulit. Kalu kulit sering kering akan sangat berbahaya bagi kesehatan kulit terutama mudahterinfeksi kuman.
Dengan bersuci berarti terjadinya proses peremajaan dan pencucian kulit, selaput lendir, dan juga lubang-lubang tubuh yang berhubungan dengan dunia luar (pori kulit, rongga mulut, hidung, telinga). Seperti kita ketahui kulit merupakan tempat berkembangnya banyak kuman dan flora normal, diantaranya Staphylococcus epidermis, Staphylococcus aureus, Streptococcus pyogenes, Mycobacterium sp (penyakit TBC kulit). Begitu juga dengan rongga hidung terdapat kuman Streptococcus pneumonia (penyakit pneumoni paru), Neisseria sp, Hemophilus sp.Seorang ahli bedah diwajibkan membasuh kedua belah tangan setiap kali melakukan operasi sebagai proses sterilisasi dari kuman. Cara ini baru dikenal abad ke-20, padahal umat Islam sudah membudayakan sejak abad ke-14 yang lalu. Luar Biasa!!
Keutamaan Berkumur Berkumur-kumur dalam bersuci berarti membersihkan rongga mulut dari penularan penyakit. Sisa makanan sering mengendap atau tersangkut di antara sela gigi yang jika tidakdibersihkan ( dengan berkumur-kumur atau menggosok gigi) akhirnya akanmenjadi mediasi pertumbuhan kuman. Dengan berkumur-kumur secara benar
dan dilakukan lima kali sehari berarti tanpa kita sadari dapat mencegah
dari infeksi gigi dan mulut. Istinsyaq berarti menghirup air dengan
lubang hidung, melalui rongga hidung sampai ke tenggorokan bagian
hidung (nasofaring). Fungsinya untuk mensucikan selaput dan lendir
hidung yang tercemar oleh udara kotor dan juga kuman. Selama ini kita
ketahui selaput dan lendir hidung merupakan basis pertahanan pertama
pernapasan. Dengan istinsyaq mudah-mudahan kuman infeksi saluran
pernapasan akut (ISPA) dapat dicegah. Begitu pula dengan pembersihan
telinga sampai dengan pensucian kaki beserta telapak kaki yang tak
kalah pentingnya untuk mencegah berbagai infeksi cacing yang masih
menjadi masalah terbesar di negara kita.
Manfaat Kesehatan Sholat Berdiri lurus adalah
pelurusan tulang belakang, dan menjadi awal dari sebuah latihan
pernapasan, pencernaan dan tulang. Takbir merupakan latihan awal
pernapasan. Paru-paru adalah alat pernapasan, Paru kita terlindung
dalam rongga dada yang tersusun dari tulang iga yang melengkung
dan tulang belakang yang mencembung. Susunan ini didukung oleh dua jenis
otot yaitu yang menjauhkan lengan dari dada (abductor) dan
mendekatkannya (adductor). Takbir berarti kegiatan mengangkat lengan
dan merenggangkannya, hingga rongga dada mengembang seperti halnya
paru-paru. Dan mengangkat tangan berarti meregangnya otot-otot bahu
hingga aliran darah yang membawa oksigen menjadi lancar. Dengan ruku’,
memperlancar aliran darah dan getah bening ke leher oleh karena
sejajarnya letak bahu dengan leher. Aliran akan semakin lancar bila
ruku’ dilakukan dengan benar yaitu meletakkan perut dan dada lebih
tinggi daripada leher. Ruku’ juga mengempiskan pernapasan. Pelurusan
tulang belakang pada saat ruku’ berarti mencegah terjadinya pengapuran.
Selain itu, ruku’ adalah latihan kemih (buang air kecil) untuk mencegah keluhan prostat. Pelurusan tulang belakang akan mengempiskan ginjal.Sedangkan penekanan kandung kemih oleh tulang belakang dan tulangkemaluan akan melancarkan kemih. Getah bening (limfe) fungsi utamanyaadalah menyaring dan menumpas kuman penyakit yang berkeliaran didalamdarah.
Sujud Mencegah Wasir Sujud mengalirkan getah bening
dari tungkai perut dan dada ke leher karena lebih tinggi. Dan
meletakkan tangan sejajar dengan bahu ataupun telinga, memompa getah
bening ketiak ke leher. Selain itu, sujud melancarkan peredaran darah
hingga dapat mencegah wasir. Sujud dengan cepat tidak bermanfaat. Ia
tidak mengalirkan getah bening dan tidak melatih tulang belakang dan
otot. Tak heran kalau ada di sebagian sahabat Rasul menceritakan bahwa
Rasulullah sering lama dalam bersujud.
Duduk di antara dua sujud dapat mengaktifkan
kelenjar keringat karena bertemunya lipatan paha dan betis sehingga
dapat mencegah terjadinya pengapuran. Pembuluh darah balik di atas
pangkal kaki jadi tertekan sehingga darah akan memenuhi seluruh telapak
kaki mulai dari mata kaki sehingga pembuluh darah di pangkal kaki
mengembang. Gerakan ini menjaga supaya kaki dapat secara optimal
menopang tubuh kita. Gerakan salam yang merupakan penutup sholat,
dengan memalingkan wajah ke kanan dan ke kiri bermanfaat untuk menjaga
kelenturan urat leher. Gerakan ini juga akan mempercepat aliran getah
bening di leher ke jantung.
Manfaat Sholat Malam Malam hari biasanya dingin dan
lembab. Kalau ditanya, paling enak tidur di waktu tersebut. Banyak
lemak jenuh yang melapisi saraf kita hingga menjadi beku. Kalau tidak
segera digerakkan, sistem pemanas tubuh tidak aktif, saraf menjadi
kaku, bahkan kolesterol dan asam urat merubah menjadi pengapuran. Tidur
di kasur yang empuk akan menyebabkan urat syaraf yang mengatur tekanan ke bola mata tidak mendapat tekanan yang cukup untuk memulihkan posisi saraf mata kita.
Jadi sholat malam itu lebih baik daripada tidur. Kebanyakan tidur malah
menjadi penyakit. Bukan lamanya masa tidur yang diperlukan oleh tubuh
kita melainkan kualitas tidur. Dengan sholat malam, kita akan
mengendalikan urat tidur kita.
Sholat Lebih Canggih dari Yoga “Apakah pendapatmu sekiranya terdapat sebuah sungai di hadapan pintu rumah salah seorang diantara kamu dan dia mandi di dalamnya setiap hari lima kali. Apakah masih terdapat kotoran pada badannya?”. Para sahabatmenjawab : “Sudah pasti tidak terdapat sedikit pun kotoran pada badannya”. Lalu beliau bersabda : “Begitulah perumpamaansholat lima waktu. Allah menghapus segala keselahan mereka”. (H.R Abu Hurairah r.a).
Jika manfaat gerakan sholat kita betul, maka sangat luar biasa manfaatnya dan lebih canggih daripada yoga. Sangat disayangkan tidak ada universitas yang berani atau sengaja mengembangkan teknik gerakan sholat ini secara ilmiah. Belum lagi manajemen yang terkandung dalam bacaan sholat. Seperti doa iftitah yang berarti mission statement (dalam manajemen strategi).
Sedangkan makna bacaan Alfatihah yang kita baca berulang sampai 17 kali
adalah objective statement. Tujuan hidup mana yang lebih canggih
dibandingkan tujuah hidup di jalan yang lurus, yaitu jalan yang penuh
kebaikan seperti diperoleh para orang-orang shaleh seperti nabi dan
rasul?
Dr. Gustafe le Bond mengatakan bahwa Islam merupakan agama yang paling sepadan dengan penemuan-penemuan ilmiah.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan etika sains harus didukung dengan
kekuatan iman. Semoga sholat kita makin terasa manfaatnya.


diambil dari : moslemsunnah.wordpress.com

Senin, 15 Februari 2010

cordova

Semangat (Islam) Cordova
Oleh M. Najibur Rohman

Semangat Cordova yang selalu “haus” ilmu pengetahuan perlu menjadi jawaban atas kelemahan-kelemahan yang terjadi di dunia muslim saat ini. Harus dihilangkan asumsi muslim sebagai yang terbelakang, gagap teknologi, dan malas berpikir (rasional dan ilmiah), terlebih di Dunia Ketiga.

Selain peradaban Baghdad di bawah Dinasti Abbasiyah, Islam mencapai kecemerlangan ketika fase Cordova dalam naungan Bani Umayyah. Dua peradaban itu, Baghdad dan Cordova, pernah menjadi pusat kekuatan di dua kutub Islam: Timur dan Barat. Nama-nama besar seperti Marshal Hodgson, Karen Armstrong dan Montgomery Watt pun harus mengakui Islam Baghdad dan Cordova sebagai catatan sejarah “peradaban emas” (the golden civilization) Islam yang menjadi “kiblat” peradaban lain, termasuk Barat, dalam progresivitas pemikiran, seni, keilmuan, teknologi, dan kebudayaan.

Cordova yang menjadi ibu kota kekaisaran Andalusia (Spanyol), awalnya ditaklukkan Tariq Ibn Ziyad melalui selat Giblatar (Jabal Tariq) dengan panglima perangnya, Musa bin Nusair. Kedatangan Islam di Spanyol merupakan titik penting bagi penyebaran Islam di Eropa. Karena itu, Spanyol dianggap sebagai gerbang pertama masuknya Islam di Eropa.

Kedatangan Islam di Spanyol tidak terlalu banyak “menghabiskan darah” seperti “ekspansi” Islam ke wilayah-wilayah lain. Karena itu, selama memasuki Andalusia (Spanyol), satu-satunya peperangan yang dialami pasukan Islam di bawah Tariq dari tahun 711 sampai 714 M, adalah peperangan dengan pasukan Raja Roderick, raja Kristen yang memaksakan keyakinan Trinitas kepada kaum Nasrani Aria yang lebih meyakini Nabi Isa sebagai utusan Tuhan semata.

Ini menjelaskan bahwa perkenalan Islam di Spanyol bukan dengan kekerasan, melainkan secara damai dan toleran. Karena itu, Watt (1992) kemudian mencoba meluruskan Islam yang tidak menakutkan, kejam, dan amanusiawi yang acapkali dipersepsikan oleh para orientalis. Watt juga menuliskan bahwa tidak adanya sekat pembatas antara ilmu pengetahuan, etika dan ajaran agama di Cordova menjadikan Islam cepat meraih kejayaan Andalusia (Spanyol). Antara pengalamalan syari’at dan riset ilmiah dapat dibersamakan. Islam Cordova merupakan Islam otentik sekaligus modern. Tidak ada “saling kunci” antara keduanya.

Ini mungkin berbeda dengan di Barat saat terkungkung abad kegelapan (dark age). Konon Galileo Galilei dengan heliosentrisme-nya melawan arus geosentrisme Gereja harus mendapatkan hukuman berat (F. Budi Hardiman: 2004). Pengetahuan di Barat begitu “dikungkung” dalam keperkasaan (kuasa) agama.

Di Cordova, proses yang terjadi lain. Pencarian ilmu diterima dengan tangan terbuka. Khalifah Abdurrahman adh-Dakhil (756-788 M) merupakan sosok khalifah pertama di Andalusia yang mau menerima tradisi keilmuan dengan baik. Di saat kekhalifahannya, ad-Dakhil membangun masjid Cordova (755 M) yang masih megah hingga kini. Bangunan ini diakui oleh dunia sebagai bukti masa keemasan Cordova di bawah kekhalifahan Islam.

Zaman keemasan berlanjut hingga kekhalifahan Abdul Rahman an-Nashir atau Abdurrahman III (912-961 M). Meskipun menjadi khalifah di usia belia (23 tahun), namun Abdurrahman III mampu mengukir sejarah luar bisa. Dia merupakan khalifah yang mampu menjaga stabilitas negerinya dengan baik. Di masanya, di Cordova dibangun sebuah universitas yang megah dengan perpustakaan yang di dalamnya terdapat ratusan ribu buku (Nasution: 1985).

Demikianlah Cordova mampu menjadi pusat peradaban. Kondisi kota yang menakjubkan, rumah-rumah yang indah, kesejahteraan rakyatnya, perpustakaan dengan jumlah tidak sedikit, dan keteraturan dalam berbagai hal, termasuk kehidupan sosial multiagama (Islam, Kristen dan Yahudi) yang dapat berjalan beriringan.

“Kiblat peradaban” yang dipegang Cordova menjadi pelajaran yang berharga bagi Barat saat itu, khususnya antara kurun waktu abad ke-8 sampai ke-13. Banyak di antara para ilmuwan Cordova laiknya Ibnu Thufail (1107-1185), Ibnu Baitar (1190-1248), Ibnu Arabi (1164-1240), Ibnu Bajjah (1082-1138), dan tentu saja Ibnu Rusyd (1126-1198) yang menjadi guru bagi Barat untuk “melek” pengetahuan. Sehingga, dalam kurun waktu tersebut Barat banyak mengirimkan sarjana untuk belajar di Cordova, meskipun pada akhirnya Cordova sendiri ––setelah dua setengah abad––harus “tenggelam” dihancurkan kekuatan Kristiani (Aragon dan Isabella dari Castile pada tahun 1492) yang kemudian mengubur kecemerlangan Islam di sana.

Sejarah Cordova merupakan saat di mana Islam mampu dipahami sebagai pendorong pengetahuan, bukan mengungkungnya. Teknologi, asalkan itu maslahat, maka kewajiban bagi umat muslim untuk selalu mengejarnya. Jika ada sebuah hadis Nabi saw, uthlubul ilm walau bi shin (kejarlah ilmu meski ke negeri China), maka itu mencerminkan Nabi saw selalu mengiyakan umat Islam untuk senantiasa mencari pengetahuan dari manapun dan sampai kapanpun, min al mahdi ila lahdi.

Proses itu pula yang telah menjadikan Cordova gemilang selama berabad-abad di Spanyol. Karenanya, teladan itulah yang perlu diikuti umat Islam masa kini. Semangat Cordova yang selalu “haus” ilmu pengetahuan perlu menjadi jawaban atas kelemahan-kelemahan yang terjadi di dunia muslim saat ini. Harus dihilangkan asumsi muslim sebagai yang terbelakang, gagap teknologi, dan malas berpikir (rasional dan ilmiah), terlebih di Dunia Ketiga.

Di dalam karyanya The Arabs: A Short History (1970), Philip K Hitti dengan jujur menyebut Islam di Spanyol sebagai pemimpin utama dalam budaya dan peradaban di seluruh dunia di antara pertengahan abad ke-8 dan permulaan abad ke-13. Mengejar kembali peradaban Islam bukan berarti harus kembali mengulang sejarah keemasan Cordova masa lampau, karena situasinya memang sudah berbeda.

Tetapi, dengan semangat era keemasan seperti Cordova, umat muslim dapat jauh lebih menghargai ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjayakan kembali Islam.

Semangat Cordova adalah semangat dengan catatan sejarah klasik yang modern dengan kecemerlangan pemikiran dan penemuan-penemuan ilmiahnya. Karena itu, mari membangun Cordova-Cordova baru yang akan menjadi pemimpin peradaban di masa mendatang. Wallahu a’lam.

Sabtu, 28 November 2009

qurban


Seharusnya Idul Adha lebih meriah
16-12-2005 / 03:18:00
Seharusnya Idul Adha lebih meriah

Akar kata Kurban adalah Qaraba yang berarti dekat. Orang yang berkurban berupaya mendekatkan diri kepada Allah. Upaya mendekatkan diri pada Allah ini memerlukan pengorbanan, baik pengorbanan tenaga, perasaan, fisik, ataupun waktu. Apa pun bentuk ibadah atau amal shalih yang ditetapkan Allah, semuanya adalah bentuk pengorbanan sebagai sarana mendekatkan diri pada Allah. Jika kita melaksanakan seluruh perintah-Nya dengan ikhlas maka kita akan mencapai suatu proses yang disebut taqarub (dekat kepada Allah) atau karib. Peristiwa Kurban menggambarkan bagaimana keistimewaan keluarga Nabi Ibrahim yang telah berhasil menanamkan ‘satu kesamaan irama’ dalam mengutamakan Allah diatas segalanya. Apa pun tuntutan pengorbanan dari Allah, tak ada satu pun anggota keluarga yang menentang atau pun meragukan, sami’na wa ato’na (kami dengar dan kami taat). Ini yang patut dicontoh oleh keluarga-keluarga jaman sekarang. Walaupun hal tersebut tidak mudah dan membutuhkan proses. Salah satu keprihatinan kita adalah banyak masyarakat yang menjalankan ibadah secara ritual saja. Ini terjadi karena proses pembinaan iman yang belum mendalam hingga menimbulkan pemahaman peribadatan secara dangkal. Jika umat sudah sampai pada pemahaman yang benar tentang hakikat ibadah, hal-hal formal yang ada dalam ibadah harus dibawa dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya saat menyembelih hewan kurban di hari Idul Adha, kita harus menghayati makna pelaksanaan kurban seperti halnya Nabi Ibrahim. Semangat ini tidak boleh hanya Idul Adha saja seharusnya terbawa seterusnya. Jika pandangan seperti yang kita pegang maka ini yang akan merubah diri kita. Kurban berdimensi menanamkan rasa peduli, perhatian, dan kasih sayang kepada sesama. Tidak seperti di negera yang mayoritas penduduknya beragama Islam, di Indonesia perayaan Idul Adha kurang begitu meriah dibandingkan Idul Fitri. Ini adalah problematika budaya yang berdampak negatif. Perayaan Idul Fitri yang lebih meriah berdampak kita merayakan semangat kembali pada fitrah belum memiliki semangat berkurban. Dampak lainnya adalah banyak masyarakat yang tidak sempat beritikaf sebagai ibadah yang utama bulan ramadhan, mudik sebelum ramadhan pun dijadikan alasan tidak berpuasa, perayaan Idul Fitri yang berkepanjangan sehingga melupakan shaum sunnah Syawal, belum lagi problematika Tunjangan Hari Raya (THR) Idhul Fitri yang menyebabkan masyarakat berperilaku konsumtif. Apabila ada THR Idul Adha, maka hal itu dapat digunakan untuk mashlahat bersama, yaitu dengan membeli hewan kurban. Hal ini bisa melatih untuk menumbuhkan semangat pergorbanan dari pada semangat konsumtif. Selain itu sunnah mengumandangkan takbir pada hari raya Idul Adha itu 4 hari mulai dari 9-13 dzulhijah (hari tasyrik). Sedangkan mengumandangkan takbir Idul Fitri mulai dari magrib sampai subuh saja. Ini pertanda bahwa mengagungkan Allah pada Idul Adha lebih meriah. Yang saya khawatir ada upaya untuk membudayakan ini dalam rangka ghowzul fikri merusak pemikiran umat Islam hingga tak heran budaya ritualisme terus berkembang di masyarakat kita.

Jumat, 27 November 2009